Selasa, 19 April 2011

KONTRIBUSI PSIKOLOGI TERHADAP PENDIDIKAN



Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sudah sejak lama bidang psikologi pendidikan telah digunakan sebagai landasan dalam pengembangan teori dan praktek pendidikan dan telah memberikan kontribusi yang besar terhadap pendidikan, diantaranya terhadap pengembangan kurikulum, sistem pembelajaran dan sistem penilaian.
1. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Pengembangan Kurikulum.
Kajian psikologi pendidikan dalam kaitannya dengan pengembangan kurikulum pendidikan terutama berkenaan dengan pemahaman aspek-aspek perilaku dalam konteks belajar mengajar. Terlepas dari berbagai aliran psikologi yang mewarnai pendidikan, pada intinya kajian psikologis ini memberikan perhatian terhadap bagaimana input, proses dan output pendidikan dapat berjalan dengan tidak mengabaikan aspek perilaku dan kepribadian peserta didik.
Secara psikologis, manusia merupakan individu yang unik. Dengan demikian, kajian psikologis dalam pengembangan kurikulum seyogyanya memperhatikan keunikan yang dimiliki oleh setiap individu, baik ditinjau dari segi tingkat kecerdasan, kemampuan, sikap, motivasi, perasaaan serta karakterisktik-karakteristik individu lainnya.
Kurikulum pendidikan seyogyanya mampu menyediakan kesempatan kepada setiap individu untuk dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya, baik dalam hal subject matter maupun metode penyampaiannya.
Secara khusus, dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini, kurikulum yang dikembangkan saat ini adalah kurikulum berbasis kompetensi, yang pada intinya menekankan pada upaya pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu.
Dengan demikian dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, kajian psikologis terutama berkenaan dengan aspek-aspek:(1) kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks; (2) pengalaman belajar siswa; (3) hasil belajar (learning outcomes), dan (4) standarisasi kemampuan siswa
2. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Pembelajaran
Kajian psikologi pendidikan telah melahirkan berbagai teori yang mendasari sistem pembelajaran. Kita mengenal adanya sejumlah teori dalam pembelajaran, seperti : teori classical conditioning, connectionism, operant conditioning, gestalt, teori daya, teori kognitif dan teori-teori pembelajaran lainnya. Terlepas dari kontroversi yang menyertai kelemahan dari masing masing teori tersebut, pada kenyataannya teori-teori tersebut telah memberikan sumbangan yang signifikan dalam proses pembelajaran.
 Di samping itu, kajian psikologi pendidikan telah melahirkan pula sejumlah prinsip-prinsip yang melandasi kegiatan pembelajaran Nasution (Daeng Sudirwo,2002) mengetengahkan tiga belas prinsip dalam belajar, yakni :
1. Agar seorang benar-benar belajar, ia harus mempunyai suatu tujuan
 2. Tujuan itu harus timbul dari atau berhubungan dengan kebutuhan hidupnya dan bukan karena dipaksakan oleh orang lain.
 3. Orang itu harus bersedia mengalami bermacam-macam kesulitan dan berusaha dengan tekun untuk mencapai tujuan yang berharga baginya.
 4. Belajar itu harus terbukti dari perubahan kelakuannya.
 5. Selain tujuan pokok yang hendak dicapai, diperolehnya pula hasil sambilan.
 6. Belajar lebih berhasil dengan jalan berbuat atau melakukan.
 7. Seseorang belajar sebagai keseluruhan, tidak hanya aspek intelektual namun termasuk pula aspek emosional, sosial, etis dan sebagainya.
 8. Seseorang memerlukan bantuan dan bimbingan dari orang lain.
 9. Untuk belajar diperlukan insight. Apa yang dipelajari harus benar-benar dipahami. Belajar bukan sekedar menghafal fakta lepas secara verbalistis.
 10. Disamping mengejar tujuan belajar yang sebenarnya, seseorang sering mengejar tujuan-tujuan lain.
 11. Belajar lebih berhasil, apabila usaha itu memberi sukses yang menyenangkan.
 12. Ulangan dan latihan perlu akan tetapi harus didahului oleh pemahaman.
 13. Belajar hanya mungkin kalau ada kemauan dan hasrat untuk belajar.
3. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Penilaian
Penilaiain pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan guna memahami seberapa jauh tingkat keberhasilan pendidikan. Melaui kajian psikologis kita dapat memahami perkembangan perilaku apa saja yang diperoleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pendidikan atau pembelajaran tertentu.
Di samping itu, kajian psikologis telah memberikan sumbangan nyata dalam pengukuran potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik, terutama setelah dikembangkannya berbagai tes psikologis, baik untuk mengukur tingkat kecerdasan, bakat maupun kepribadian individu lainnya.Kita mengenal sejumlah tes psikologis yang saat ini masih banyak digunakan untuk mengukur potensi seorang individu, seperti Multiple Aptitude Test (MAT), Differensial Aptitude Tes (DAT), EPPS dan alat ukur lainnya.
 Pemahaman kecerdasan, bakat, minat dan aspek kepribadian lainnya melalui pengukuran psikologis, memiliki arti penting bagi upaya pengembangan proses pendidikan individu yang bersangkutan sehingga pada gilirannya dapat dicapai perkembangan individu yang optimal.
Oleh karena itu, betapa pentingnya penguasaan psikologi pendidikan bagi kalangan guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya.



Rabu, 13 April 2011

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS LAYAK UNTUK MENERIMA PENDIDIKAN



MENURUT data Indonesian Society for Special Needs Education (ISSE) -- lembaga yang fokus memperhatikan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia --, sekira 2,6 juta lebih anak berkebutuhan khusus (special needs) usia sekolah di Indonesia. Dari jumlah tersebut, yang masuk ke sekolah khusus hanya mencapai sekira 48 ribu orang, atau 1,83% saja. Artinya, ada lebih dari 98% anak berkebutuhan khusus belum dilayani haknya atas pendidikan.


Oleh karena itu, pemerintah kemudian memperkenalkan program inklusif anak-anak berkebutuhan khusus tidak hanya bisa bersekolah di sekolah luar biasa (SLB) tetapi dapat pula diterima di sekolah umum. Namun, untuk itu, tentu saja perlu berbagai persiapan di sekolah umum tersebut sehingga proses belajar anak berkebutuhan khusus dapat terpenuhi sekaligus tidak mengganggu proses belajar anak-anak lainnya.

Selain butuh sumber daya manusia pendidik yang mengerti cara menangani anak-anak berkebutuhan khusus, sekolah perlu pula memiliki berbagai perlengkapan fisik sebagai alat bantu belajar. Mungkin, itu sebabnya hingga kini belum banyak sekolah umum memiliki program inklusif.

Berikut wawancara dengan Kepala Sekolah Dasar 9 Mutiara Bandung Alva Handayani, belum lama ini. SD 9 Mutiara Bandung merupakan salah satu sekolah umum yang menerima anak-anak berkebutuhan khusus, dalam hal ini masih dikhususkan pada anak-anak penderita autisme.

Seperti apa sih anak-anak berkebutuhan khusus?

Mereka adalah anak-anak yang memiliki keterbatasan intelektual, emosi, dan sosial. Jadi, bukan hanya keterbatasan fisik karena ada anak-anak yang terbatas secara sosial tetapi tidak cacat fisik. Tetapi, jangan juga para orang tua melakukan deteksi terlalu dini sehingga menilai secara gampang anak-anaknya yang hiperaktif atau cenderung tidak banyak bersosialisasi sebagai anak dengan kebutuhan khusus.

Mereka butuh pendidikan khusus kan?

Anak-anak yang memiliki keterbatasan itu memerlukan penanganan khusus. Selama ini, jalur pendidikan yang ada untuk mereka biasanya sekolah luar biasa (SLB) atau terapi-terapi di luar sekolah. Masyarakat kita masih menganggap pendidikan formal sebagai segala-galanya. Masalahnya, bagi sebagian orang tua, SLB sebagai jalur pendidikan formal masih dipandang "menakutkan". Di sisi lain, terapi di luar sekolah seringkali tidak memasukan unsur akademik bagi sang anak. Para orang tua seringkali kebingungan harus bagaimana, padahal mereka tidak hanya memikirkan bagaimana menangani keterbatasan anak-anak itu, tetapi juga memikirkan masa depan mereka.

**

SELAIN memegang profesi baru sebagai kepala SD, Alva Handayani dikenal pula sebagai psikolog perkembangan anak dan remaja. Dosen di Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba) ini pernah menjadi pengisi rubrik psikologi di sejumlah radio di Bandung. Kini, dia terlibat di rubrik konsultasi psikologi remaja untuk Radio Ninetyniners FM Bandung, serta pimpinan lembaga konsultasi dan manajemen Sumber Daya Manusia Open Mind yang baru-baru ini ditunjuk menyeleksi calon anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandung.

**

Sekolah umum bisa menerima anak-anak dengan kebutuhan khusus ini?

Bisa, tetapi memang ada tingkatan-tingkatan tertentu. Bagi yang masuk kategori berat tentu butuh penanganan lebih khusus lagi, dan program seperti ini di sekolah umum pun tidak berarti akan meniadakan fungsi SLB. Mereka yang masih belum termasuk tingkat berat, tidak semua fungsi tubuhnya terganggu. Ada fungsi-fungsi yang masih bisa dioptimalkan, di sana para guru termasuk guru pendamping khusus mereka, memainkan perannya.

Bagaimana teknisnya?

Anak-anak berkebutuhan khusus itu digabung bersama dengan anak-anak lainnya, tetapi mereka memiliki guru pendamping khusus. Contoh kasus di sekolah kami, setiap kelas bisa menerima dua anak dengan kebutuhan khusus, setiap anak itu akan didampingi seorang guru khusus. Kami menamakannya individualized education program, guru pendamping diambil dari yang berkualifikasi psikologi atau pendidikan luar biasa (PLB).

Tidak mengganggu proses belajar anak-anak lain?
Anak-anak ini tidak sepenuhnya ikut di dalam kelas umum, tetapi punya ruang dan waktu khusus juga untuk mereka sendiri. Penggabungan ini membantu proses sosialisasi, baik untuk anak berkebutuhan khusus maupun anak umum. Keuntungan bagi anak umum, mereka bisa belajar toleransi terhadap perbedaan. Anak-anak umum itu diajarkan bahwa perbedaan semacam itu ada di masyarakat, diharapkan secara psikologis juga memberi dampak positif sehingga anak umum tidak menuntut terlalu banyak kepada orangtua atau bisa saling menghargai.

Sumber :  


Kamis, 07 April 2011

FENOMENA PENDIDIKAN

M. Fadly Sembiring (10-006)

pembahasan kali ini, kami akan mengungkap fenomena di Indonesia yang berkaitan dengan pendidikan. pendidikan di Indonesia pada awalnya didasari oleh pendidikan yang diterapkan dalam lingkungan keluarga. dimana keluarga mengajarkan moral yang nantinya akan diterapkan anak dan menjadi dasar kepribadiannya pada masa dewasa kelak.

keluarga memiliki peran penting dalam mendidik anaknya. bagaimanapun sifat seorang anak tentunya dapat dilihat dari prilaku keluarganya. keluarga berhak mengawasi apa saja yang boleh dilakukan si anak dan yang tidak boleh dilakukannya. biasanya keluarga selalu mengajarkan morl tersebut berdasarkan peraturan agamanya masing-masing.

begitu juga dengan pendidikan yang diberikan sekolah. pendidikan tersebut penting untuk meningkatkan moral anak atau perkembangan prilakunya di masyarakat kelak. peningkatan moral yang diberikan sekolah, nantinya akan diterapkan anak dalam lingkungannya yang pastinya juga akan dibantu pengaplikasiannya oleh orang tua. 
contohnya saja, apabila seorang anak diberikan pendidikan tentang tata krama yang umum seperti berdoa ketika ingin makan, menjenguk tetangga atau teman yang sakit, saling menghargai satu sama lain, tentunya saja hal ini akan aplikasikan di lingkungan sekitar rumah yang nantinya akan meningkat ke aspek yang lain.

lalu bagaimana dengan fenomena yang terjadi seperti yang kita lihat beberapa fenomena yang marak di negara kita. contohnya saja, pelecehan seksual yang sering dilakukan guru kepada anak muridnya. tentu saja dalam hal ini orangtua berperan penting untuk memulihkan keadaan sia anak. orang tua lebih ditekankan untuk senantiasa menjaga dan mengawasi sia anak agar tidak terpengaruh dan tidak terjerumus ke lubang yang salah.

dalam psikologi pendidikan, pendidikan yang paling banyak berperan penting dalam pembentukan moral anak  menurut kelompook kami adalah keluarga. keluarga yang pertamma kali menanamkan moral yang nantinya juga akan menjadi fondasi kepribadian anak. begitu juga dengan pendidikan yang diberikan oleh sekolah, pendidikan tersebut tidak akan berjalan apabila keluarga tidak berperan dalam pengaplikasiannya di kehidupan sehari-hari anak.

apabila lingkungan keluarga baik, maka baik juga anak tersebut. namun, apabila lingkungannya buruk, buruk jugalah anak tersebut walaupun sang anak telah mendapatkan pelajaran yang baik dari lngkungan sekolah.
sekian hasil diskusi kami, apabila terdapat kekurangan kami minta maaf yang sebesar-besarnya.

Selasa, 29 Maret 2011

Depresi Facebook-Ancaman Baru Psikologi Anak


Di zaman modern ini, dunia maya menjadi salah satu ancaman bagi psikologi anak. Jejaring sosial seperti Facebook, misalnya, bisa saja menganggu kejiwaaan anak, jika mereka tidak diawasi. Gangguan psikologi ini sering dinamakan depresi-Facebook (Facebook depression).

Menurut laporan American Academy of Pediatrics (AAP), depresi bisa dihindari apabila orang tua mengawasi perilaku anak mereka di dunia maya. Para peneliti di akademi itu menyarankan psikolog anak (pediatricians) untuk aktif bicara kepada pasien anak-anak, orang tuanya, mengenai keselamatan di dunia maya. Keselamatan itu termasuk privasi, anonimitas, dan perilaku bullying di dunia maya.


"Kami tidak ingin melakukan demonisasi terhadap dunia maya atau mengatakan social media itu buruk. Kami hanya ingin orang tua lebih memperhatikan apa yang terjadi kepada anak mereka," kata penulis laporan Gwenn Schurgin O'Keeffe, seperti dikutip dari Livescience.com.


Masalah dunia maya memang menjadi perhatian bagi perkembangan psikologi anak dan remaja. Berdasarkan studi yang dilakukan tahun lalu, 70 persen remaja pengguna internet di Amerika menggunakan jejaring sosial. Bahkan lebih dari setengahnya menggunakan jejaring sosial lebih dari sekali.


Sejumlah masalah yang biasa mengancam psikologi dan dapat menimbulkan depresi pada anak antara lain bullying, ekperimental seksual, dan interaksi dengan orang asing.


Dengan adanya dunia maya, masalah itu pun berkembang menjadi cyber bullying, eksperimental seks dengan tekstual (sexting) atau gambar, hingga interaksi dengan orang asing dengan anonimitas. Inilah penyebab terjadinya depresi-Facebook.


"Dokter harus bisa memberikan nasehat kepada orang tua akan isu-isu tersebut. Orang tua juga harus belajar internet agar memahami konteksnya," ujar O'Keeffe.


Walau begitu, jejaring sosial juga dianggap memiliki sejumlah manfaat. Antara lain, jejaring sosial dianggap dapat membangun kepekaan anak akan komunitas dan berkomunikasi dengan sesama. Anak-anak juga bosa mendapatkan pendidikan seksual secara benar.


Namun, tetap penting bagi orang tua untuk menjamin anak-anak berinteraksi di dunia nyata, dan tidak hanya berkutat di dunia maya. Karena salah satu tanda "depresi-Facebook" adalah ketika anak merasa kikuk dan moody setelah menghabiskan banyak waktu dengan membuka situs jejaring sosial.

Jumat, 11 Maret 2011

15 HASIL SINAR-X YANH HAMPIR MUSTAHIL

1. Lance Armstrong "bersekrup"

Ini adalah gambar sinar-x selangkangan juara Tour de-France, lance armstrong.



2. Bertindikan tombak nelayan

Emerson de Oliveira Abreu menemukan pengalaman yang sangat mengerikan saat menyelam di lepas pantai Rio de Janeiro ketika otaknya tertembus dengan tombak 6 inch. Laporan mengatakan, ia sendiri memiliki tombak yang menusuknya, menembak ke arah karang tetapi memantul kembali, dan akhirnya menyogok tulang tengkorak nya begitu dalam. Dia berada di bawah pisau (operasi) selama 5 jam sebelum ia sendiri terkejut dan menyatakan keluar dari bahaya. Wow!!!!!!!



3. Terhunus dalam tengkorak

Michael Hill dari Jacksonville Florida ditikam di kepalanya dengan 7-inci pisau oleh orang tak dikenal yang muncul di depan pintu, 2007 lalu. Dia saat ini memegang Guinness World Records, Judul: "Objek Terbesar yang dikeluarkan dari tengkorak manusia."



4. Gadis Cina yang Menyedihkan

X-ray dari Luo Cuifen, seorang gadis Cina berusia 29 tahun yang ditemukan memiliki 23 jahit jarum dalam tubuhnya. Cui fen mengeluh tentang darah di urin ,akhir 2007 dan ketika dokter melakukan x-ray-nya, menemukan jarum jahit mengambang dan tersebar di tubuhnya, itu menancap di ginjal, hati, paru-paru dan organ vital lainnya. Telah ada spekulasi bahwa jarum dimasukkan ketika dia masih bayi, karena beberapa jarum sudah patah berkeping-keping. Dia mengatakan bahwa kakek-neneknya pasti yang bertanggung jawab atas hal ini karena mereka mengharapkan anak laki-laki ketika ia dilahirkan. Namun ini tidak akan pernah bisa dikonfirmasi karena kedua-duanya kakek-neneknya meninggal. Perasaannya pasti terluka mengetahui hal ini ...



5. Anak Afghanistan Ditusuk

X-ray dari anak laki-laki Afghanistan 10 tahun ditikam di kepala dalam-dalam ketika ia berusaha untuk melindungi ayahnya dari seorang pelanggan yang telah pergi mengamuk. Ia diselamatkan dan dioperasikan oleh Britain's Reserve Teritorial Angkatan Darat dan telah selamat dari insiden mengerikan ini.



6. Kaki kursi di dalam rongga mata

Mengerikan. x-ray tengkorak Shafique el-Fahkri, remaja 19-tahun dari Melbourne, Australia. Dia dilarikan ke rumah sakit terakhir Februari 2007, setelah ia diserang oleh remaja lain berusia 19 tahun di sebuah bar perkelahian di sebuah klub malam. Dia dihunus dengan kursi dan salah satu kaki kursi itu menembus kepalanya, tepat di bawah matanya langsung ke lehernya. Itu kursi logam gan!

Logam telah berhasil dihapus dari kepala remaja setelah tiga jam operasi kompleks.



7. Kecelakaan Nailgun

X-ray Patrick Lawler, 23 menunjukkan empat inci paku tertanam di kepalanya, diambil bulan Januari 2005. Kecelakaan itu terjadi 6 hari lalu ketika Lawler mengalami kecelakaan konstruksi di mana nailgun menjadi bumerang dan satu paku menembus mulutnya. Dia tidak melihat paku di mulutnya hanya sampai ia merasakan sakit gigi yang sangat menyakitkan disertai dengan visi yang kabur.
Setelah kunjungan ke dokter gigi dia menyadari apa yang ada di dalam kepalanya selama hampir satu minggu. Itu dihapus setelah 4 jam operasi meninggalkan dia dengan kurang dari US $ 100,000,- tagihan rumah sakit. Oh tidak.



8. Balita dengan kunci Mobil bersarang di otaknya

Mengerikan! x-ray Nicholas Holderman ketika ia berusia 20 bulan. Dia sengaja ditusuk dengan kunci di matanya saat bermain di ruang tamu dengan kakak-kakaknya. Dokter mengeluarkan kunci dari matanya, tanpa kerusakan otak. TUHAN MAHA PENYAYANG!



9. Kecelakaan nailgun yang lebih dahsyat!
Pekerja bangunan, Isidro Mejia, jatuh dari atap, sayangnya jatuh di atas rekan kerja lain dengan menggunakan paku pistol. 6 paku melaju ke kepala Mejia, menghujum otaknya dan pangkal tengkoraknya. Ia selamat dari operasi!



10. Gadis Cilik Pemberani

Gadis berusia 8 tahun dari Indiana dilarikan ke rumah sakit setelah dia sengaja menelan bola-bola baja dan magnet dari set mainan. Ia segera dioperasi, selamat dari operasi setelah dirawat di rumah sakit selama 2 minggu.



11. Anjing penelan pisau


Seekor Saint Bernard menelan pisau 13-inch pada tahun 2005. Dia baik-baik saja setelah operasi dan kejadiannya hanya meninggalkan bekas luka 8-inci.



12. Sisir adalah pembunuh.

X-ray Louis Pepe, ketika dia ditikam oleh sisir dalam tengkorak, pada tahun 2000. Ia kehilangan mata kiri dan mata kanannya yang terkena juga. Sisir menyebabkan dia banyak kerusakan: melumpuhkan lengan kanan dan kaki dan kemampuannya untuk berbicara. Penyerang dijatuhi hukuman 23 tahun penjara, gak adil ya gan?



13. Resiko mengalami pembedahan

Gunting bedah 6 inch tertinggal di dalam perut wanita setelah operasi. Pat Skinner, telah menjalani operasi di tahun 2004 untuk operasi usus besar di sebuah rumah sakit di Sydney, Australia. 18 bulan setelah operasi, dia menderita sakit luar biasa di perutnya. Ketika dia melakukan x-ray, mereka menemukan gunting 6,7 inci . Traumatis.



14. Pisau itu haram?

Seorang anak laki-laki berusia 16 tahun ditikam di kepala dengan pisau pada tahun 2007. Insiden supermarket yang tidak biasa.



15. Laki-laki dengan paku di tengkorak

Pria Korea Selatan mengeluh tentang sakit kepala yang sangat buruk dan dokter menemukan sebuah paku berkarat beristirahat di dalam kepalanya. Dokter mengatakan bahwa paku itu tertanam di dalam tengkorak empat tahun sebelumnya. Itu sangat sangat lama!

Selasa, 08 Maret 2011

NYANYIAN SAHABAT


persahabatan adalah hidup
ia mengalir di darahku
bergetar di nadiku
berirama dengan tiap detak jantung

persahabatan adalah kokoh
setegar batu karang
seperti tembok cina
meski raga tumbang
ia akan selalu tegak dalam dada yang memendam langit

nyanyian ini untukmu kawan



untuk setiap gelas yang tak sempat kau teguk
untuk kebahagiaan yang belum lama kau rasakan
dari luka yang panjang

nyanyian ini untukmu kawan

untuk setiap langkah yang kau jejakkan
pada jalan-jalan takdir yang menggurat di telapak kaki
untuk kebersamaan kita di detik terakhir
dan untuk semua kebisingan ini

persahabatan adalah nyanyian


ia mengaun dalam setiap desah nafasku

PROSES KOGNITIF, MOTIVASI, DAN TUJUAN INSTRUKSIONAL

Pendahuluan

Momen yang tak terlupakan

Sekali dalam hidup, saya dilumpuhkan oleh rasa takut. Waktu itu saya harus mengikuti ujian kalkulus, ketika baru menginjak tahun pertama di Perguruan Tinggi. Entah bagaimana, pokoknya saya tidak belajar. Saya masih ingat ketika saya memasuki ruang ujian di pagi hari dengan perasaan kacau balau menggalayut di hati. Padahal saya kerap mengikuti kuliah diruang itu. Tetapi, pagi itu pemandangan di luar jendela seakan-akan kosong dan ujian itu pun serasa tidak ada. Yang tampak jelas hanyalah petak-petak ubin dihadapan saya sewaktu saya berjalan menuju bangku di dekat pintu. Sewaktu saya membuka buku ujian yang bersampul biru itu, telinga saya dipenuhi suara degup jantung, kecemasan serasa menghantam perut. Saya melihat soal-soal ujian itu sekilas. Putus asa. Selama satu jam saya hanya mampu memandangi soal-soal itu, sementara pikiran saya berputar-putar merenungkan akibat yang akan saya tanggung. Gagasan yang sama terulang terus-menerus, membentuk lingkaran pita ketakutan dan kekhawatiran. Saya duduk tak bergerak persis seekor hewan yang mati kaku terkena panah beracun. Yang paling mengejutkan saya akan momen menakutkan itu adalah betapa otak saya jadi “macet”. Saya menyia-nyiakan waktu ujian dengan tidak berusaha membuat jawaban sebisa-bisanya. Saya tidak melamun. Saya hanya mampu duduk terpaku karena ketakutan, menunggu siksaan itu berakhir. (di kutip dari Emotional Intelligence oleh Daniel Goleman, 2009:109)


Peristiwa semacam ini mungkin pernah kita alami. Entah mengapa, ketakutan/kecemasan dapat menghancurkan rencana yang telah kita susun rapi. Motivasi dapat berubah menjadi tekanan, harapan dapat berubah menjadi sikap pesimis. Daya konsentrasi berkurang, karena kita terfokus pada kecemasan[1].

Bila emosi mengalahkan konsentrasi, yang dilumpuhkan adalah kemampuan mental yang oleh ilmuan kognitif disebut “working memory”, yaitu kemampuan untuk menyimpan dalam benak semua informasi yang relevan dengan tugas yang sedang dihadapi[2].

Pada akhir-akhir ini para ahli psikologi kognitif menaruh perhatian besar terhadap keterkaitan antara aspek emosi dengan proses-proses kognitif karena beberapa alasan yang dapat dikemukakan[3]. Pertama, bahwa keadaan emosi dapat mempengaruhi proses-proses kognitif dalam bentuk-bentuk atau cara-cara yang sangat penting, bahkan berakibat fatal. Oleh sebab itu, ada sesuatu hal yang esensial bagi psikologi untuk memahami apa dan bagaimana emosi mempengaruhi aktivitas kognitif seseorang. Kedua, cara-cara yang lebih berguna untuk dikembangkan, sehingga memungkinkan dilakukan manipulasi atau rekayasa pengalaman emosi secara eksperimental sebagai variabel bebas. Misalnya suasana emosinya dengan hipnotis atau verbal, sehingga membuat mereka mengalami emosi sedih atau gembira pada saat itu. Dengan makin canggih metode yang dipergunakan maka memungkinkan untuk dilakukan penelitian yang lebih luas. Ketiga, keterbatasan penelitian yang dilakukan dalam bidang klinis. Sejak sepuluh tahun yang lalu, kebanyakan penelitian mengenai pengaruh depresi terhadap ingatan dan proses kognitif yang lain menggunakan pasien klinis, dan tidak melibatkan rekayasa emosi pada orang-orang normal. Dengan begitu, tanpa dilakukan manipulasi secara langsung terhadap emosi subjek yang normal maka sulit diketahui dengan jelas apakah suatu proses kognitif memang dipengaruhi oleh suasana emosi yang sedang berlangsung, atau karena faktor sindrom depresif secara umum. Terakhir, tumbuhnya suatu keyakinan bahwa pertimbangan teoritis tentang ingatan dan kognisi pada umumnya harus dapat menjelaskan juga mengenai pengaruh aspek-aspek afektif atau emosi seperti stres, kecemasan, depresi, nilai, arousal[4], terhadap proses-proses kognitif. Dengan demikian, teori kognitif yang lengkap pada akhirnya harus mencakup penjelasan tentang bagaimana peran-peran penting aspek-aspek emosi di dalam keseluruhan proses kognitif manusia.

Apa saja yang mempengaruhi emosi, bagaimana working memory tersebut bekerja? Kita akan membahas satu persatu mulai dari emosi, motivasi, proses kognitif dan hubungan antara emosi, motivasi, dan proses kognitif.

Emosi

Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak, rencana seketika untuk mengatasi masalah yang telah tertanam melalui mekanisme evolusi. Akar kata emosi adalah movere (bahasa latin) yang berarti “menggerakkan, bergerak”, ditambah awalan “e-” untuk memberi arti “bergerak menjauh”, menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi[5].

Menurut kamus “Oxford English Dictionary” mendefenisikan emosi sebagai “setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap”. Secara umum, para psikolog memfokuskan pendefenisian emosi pada tiga komponen utama: perubahan fisiologis (perubahan pada wajah, otak dan tubuh), proses kognitif (interpretasi suatu peristiwa), dan pengaruh budaya (membentuk pengalaman dan ekspresi emosi)[6]. Emosi adalah situasi stimulasi yang melibatkan perubahan pada tubuh dan wajah, aktivasi pada otak, penilaian kognitif, perasaan subjektif, dan kecenderungan melakukan suatu tindakan yang dibentuk seluruhnya oleh peraturan-peraturan yang terdapat di suatu kebudayaan.

Sebagian ahli, menggolongkan antara emosi primer dan emosi sekunder. Golongan emosi-emosi primer yang merupakan penggerak dasar tingkah laku. Tingkah laku terwujud dari emosi primer ataupun sekunder (gabungan antara beberapa emosi primer).

Emosi-emosi primer yang berkembang adalah[7]:

· Amarah: beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit (sinestesia), berang, tersinggung, bermusuhan, dan brang kali yang paling hebat, tindak kekerasan dan kebencian patologis.

· Kesedihan: pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, putus asa, ditolak, dan kalau menjadi patologis, depresi berat.

· Rasa takut: Cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, khawatir, waspada, sedih, tidak tenang, ngeri, takut sekali, kecut, dan sebagai patologi adalah fobia dan panic.

· Kenikmatan: bahagia, gembira, ringan, puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, takjub, rasa terpesona, rasa puas, rasa terpenuhi, kegirangan luar biasa, senang, senang sekali, dan batas ujungnya mania

· Cinta: penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rsa dekat, bakti, hormat, kasmaran, kasih.

· Terkejut: terkejut, tersigap, takjub, terpana.

· Jengkel: hina, jijik, muak, benci, tidak suka, mau muntah (sinestesia).

· Malu: rasa salah, malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib, dan hati hancur lebur.

Aktivitas emosi dipengaruhi oleh aktivitas fisiologis (otak dan transformasi hormon). Amigdala merupakan suatu bagian kecil dari otak kita yang memiliki peran penting dalam emosi, terutama rasa takut. Amigdala bertugas mengevaluasi informasi sensorik yang kita terima, dan kemudian dengan cepat menentukan kepentingan emosionalnya, dan membuat keputusan untuk mendekati atau menjauhi suatu objek atau suatu situasi. Amigdala bekerja mengevalusi bahaya atau ancaman. Peran Prefrontal Cortex, adalah merespon dan memotivasi respon-respon tertentu, mengatur dan menjaga agar emosi tetap seimbang (perasan suka dan benci, menjauh dan mendekat dan lain-lain).

Kelenjar yang berhubungan dengan emosi adalah kelenjar adrenalin yang akan memproduksi hormone epinephrine dan norepinephrine. Hormon ini bekerja sebagai respon terhadap beragam tantangan dalam lingkungan. Hormone ini akan diproduksi pada saat tertawa, geli, marah, takut dan lain-lain[8].

Motivasi


Motivasi adalah dorongan dari dalam diri individu (drive) yang membuat seseorang melakukan sesuatu. Motivasi seperti bahan bakar pada mesin, menentukan mesin bergerak atau akan terdiam selamanya. Istilah motivasi, seperti halnya kata emosi, berasal dari kata latin, yang berarti “bergerak”. Ilmu psikologi tentu saja mempelajari motivasi, sasarannya adalah mempelajari penyebab atau alasan yang membuat kita melakukan apa yang kita lakukan. Motivasi merujuk pada pada proses yang menyebabkan organisme tersebut bergerak menuju suatu tujuan, atau bergerak menjauh dari situasi yang tidak menyenangkan.

Motivasi[9] memiliki penekanan pada tujuan (goals). Tujuan yang telah kita tetapkan dan alasan yang kita miliki untuk mengejar tujuan tersebut akan menetapkan pencapaian (prestasi) yang kita dapatkan, meskipun tidak semua tujuan akan menuntun kita pada prestasi yang nyata. Tujuan dapat meningkatkan motivasi apabila kondisi berikut ini[10]:

ü Tujuan bersifat spesifik. Tujuan yang tidak jelas, seperti “melakukan yang terbaik”, bukalah tujuan yang efektif, tujuan ini bahkan tidak berbeda dengan tidak memiliki tujuan sama sekali. Kita perlu lebih spesifik menentukan tujuan, termasuk menentukan waktu pengerjaan.

ü Tujuan harus menantang, namun dapat dicapai. Kita cenderung bekerja keras untuk mencapai tujuan yang sulit namun realistis. Semakin tinggi dan semakin sulit suatu tujuan maka semakin tinggi juga tingkat motivasi dan kinerja kita, kecuali kita memilih suatu tujuan yang mustahil dicapai.

ü Tujuan kita dibatasi pada mendapatkan apa yang kita inginkan, bukannya apa yang tidak kita inginkan. Tujuan mendekat (approach goal) merupakan penglaman positif yang kita harapkan secara langsung, seperti mendapatkan nilai yang lebih baik atau mempelajari cara menyelam dilaut. Tujuan menghindar (avoidance goal) melibatkan usaha menghindari pengalaman yang tidak menyenangkan, seperti berusaha tidak mempermalukan diri sendiri.

Mendefiniskan tujuan yang kita miliki akan semakin mendekatkan kita dengan keberhasilan. Namun apa yang terjadi bila kita menemukan rintangan? Beberapa orang akan menyerah saat menghadapi kesulitan atau mundur, sedangkan beberapa orang lainnya justru termotivasi saat menghadapi tantangan. Sebuah pertanyaan penelitian: Factor apakah yang dapat memprediksi bahwa bakat, ambisi, dan IQ dapat memprediksi orang akan terus berusaha atau akan menyerah? Pendapat umumnya menyatakan bahwa eksistensi motivasi bersifat dikotomi (seseorang memiliki motivasi atau sebaliknya tidak memiliki motivasi, tidak ada motivasi antar keduanya). Hal lain yang mempengaruhi kekuatan motivasi seorang adalah jenis sasaran yang akan diusahakan (apakah untuk menunjukkan kemampuan atau untuk mendapatkan kepuasan dari proses tersebut)[11].

Proses Kognitif


Proses kognitif areanya sangat luas (proses berpikir, intelegensi, pengetahuan umum dan lain-lain). Disini kita hanya akan membahas antara intelegensi dan emosi. Intelegensi emosional adalah suatu kemampuan mengidentifikasi emosi yang dialami oleh diri sendiri dan orang lain dengan akurat, kemampuan mengekspresikan emosi dengan tepat, dan kemampuan mengatur emosi pada diri sendiri dan orang lain. Orang yang memiliki intelegensi emosional (EQ) yang tinggi mampu menggunakan emosi mereka untuk meningkatkan motivasi mereka, menstimulasi pemikiran yang kreatif, dan mengembangkan empati terhadap orang lain. Orang-orang yang memiliki intelegensi emosi yang kurang baik akan mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi emosi pada diri mereka sendiri.

Beberapa orang memiliki argumen bahwa intelegensi emosional bukanlah kemampuan kognitif yang spesial, melainkan kumpulan karakteristik-karakteristik kepribadian, seperti empati dan ekstroversi. Terlepas dari kontroversi yang ada, pengembangan konsep intelegensi merupakan sesuatu yang sangat berguna bagi kita semua. Pengembangan tersebut memaksa kita berpikir kritis mengenai makna intelegensi dan memaksa kita mempertimbangkan beragam jenis “intelegensi[12]” yang membantu kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Pendekatan kognitif juga membantu penyusuran berbagai strategi pembelajaran anak-anak yang mampu secara efektif meningkatkan kemampuan anak dalam membaca, menulis, mengerjakan pekerjaan rumah dan menjalani ujian. Sebagai contoh, anak-anak diajari menggunakan waktu dengan bijak sehingga tidak menunda-nunda dan mampu membedakan persiapan untuk ujian pilihan ganda dengan ujian essai. Yang paling penting, berbagai pendekatan baru dalam menjelaskan intelegensi telah menghapus set mental yang keliru, yang menganggap intelegensi yang diukur oleh tes IQ satu-satunya variabel yang menentukan berhasil atau tidaknya seseorang dalam kehidupannya[13].

Hubungan Emosi, Motivasi dan Proses Kognitif

Berbagai temuan yang mengindikasikan adanya pengaruh-pengaruh keadaan emosi seseorang terhadap aktivitas kognisi dapat dilihat dalam beberapa pendekatan teoritis. Khusus pendekatan arousal, disini membahas tentang emosi, motivasi dan pengaruhnya terhadap proses kognitif yang sedang berlangsung.

A. Network Theory (teori jaringan kerja)

Teori ini dikembangkan oleh Gordon Bower dkk (1980). Teori ini didasarkan atas asumsi bahwa emosi-emosi disimpan sebagai node-node atau komponen-komponen di dalam ingatan semantik. Setiap emosi yang menonjol seperti gembira, murung (depresi), atau ketakutan, memiliki komponen atau unit khusus di dalam ingatan yang terkumpul bersama-sama dengan banyak emosi yang lain seperti jaringan. Masing-masing unit emosi tersebut juga dihubungkan oleh proposisi yang menggambarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi ketika seseorang sedang mengalami emosi itu. Node-node emosi ini dapat diaktifkan kembali oleh berbagai stimulus, misalnya simbol-simbol bahasa atau objek-objek fisik.

Contoh: kenangan indah yang pernah dialami pada waktu masih muda, dapat dimunculkan kembali dari ingatan seseorang ketika mendengarkan lagu-lagu atau kenangan masa lalu.

B. Schema Theory (Tori Skema)

Teori ini berpandangan bahwa orang-orang yang memiliki emosi atau suasana hati tertentu memiliki suatu bungkai kerja yang digeneralisasikan yang disebut skema yang serupa dengan suasana hati tersebut. Jadi, orang yang sedang mengalami kesedihan akan memiliki skema sedih dan menggunakannya untuk mengorganisasikan informasi.

Teori skema secara konseptual hampir serupa dengan teori network, karena keduanya mendasarkan pandangan pada struktur pengetahuan (knowledge structures) yang berupa suatu jaringan atau skema di dalam system kognitif manusia. Perbedaan yang menonjol antara kedua teori ini adalah:

ü Teori network berpijak pada asumsi bahwa suatu unit emosi dapat diaktifkan kembali dari jaringan seseorang, sementara teori skema menggunakan asumsi berupa pemberlakuan kerangka kerja yang disebut skema terhadap informasi yang baru atau di kemudian.

ü Teori network lebih terkenal daripada teori skema. Namun, dewasa ini teori skema mengalami perkembangan dan kemajuan, sehingga sekarang para ahli psikologi juga mulai banyak menggunakan teori skema untuk menjelaskan berbagai fenomena kognitif manusia.

C. Resource Allocation or Capasity Model (Teori Alokasi Sumber kapasitas)

Teori ini dikembangkan secara luas oleh Henry Ellis dkk (sejak pertengahan tahun 1980-an). Ide dasar dari teori ini adalah pemberian jatah kapasitas perhatian terhadap suatu tugas yang cocok. Ada dua hal yang perlu dipertimbangkan:

ü Peranan keadaan emosional dalam mengatur jumlah kapasitas yang diperuntukkan bagi beberapa tugas kognitif.

ü Permintaan atau tuntutan tugas-tugas itu sendiri terhadap pemrosesan kapasitas.

Model ini diambil dari konsep tentang alokasi terhadap sumber-sumber kapasitas yang merupakan bagian dari teori kapasitas yang merupakan bagian dari teori kapasitas umum untuk menerangkan fenomena perhatian (attention). Teori ini berasumsi bahwa terdapat keterbatasan sumber kapasitas perhatian yang dapat dialokasikan oleh seseorang kepada setiap tugas yang dikerjakan.

D. Teori Arousal

Arousal adalah keadaan emosi seseorang yang berkaitan dengan gairah, nafsu, semangat, termotivasi, atau kebangkitan. Jadi arousal dapat bergerak dari keadaan yang penuh semangat, gairah, atau kebangkitan, sampai pada keadaan sebaliknya yakni tidak bersemangat, tidak bergairah sama sekali, atau malas. Emosi-emosi seperti ini sangat memepengaruhi kinerja seseorang menyelesaikan tugas-tugas kognitif misalnya mengingat, belajar, membuat keputusan dan memecahkan masalah.

Yerkes & Dodson telah menguji hubungan antara arousal dengan kinerja seseorang dalam suatu tugas. Dia berasumsi bahwa:

a. Hubungan antara tingkat tekanan, semangat, atau keadaan termotivasi dengan kinerja dalam tugas adalahberbentuk kurva “U” terbalik. Kinerja optimal dapat terjadi apabila semangat (arousal) berada pada tingkat yang sedang atau moderat.

b.

tinggi
Tingkat optimal dari semangat atau gairah berhubungan secara terbalik dengan tingkat kesulitan tugas.

Tingkat Arousal

Apabila seseorang berada pada tingkat arousal atau semangat yang sangat tinggi, atau sebaliknya sangat rendah, ia cendeerung menunjukkan kinerja yang kurang efektif. Alasannya adalah:

ü Kinerja buruk pada semangat tingkat rendah disebabkan karena banyak isyarat yang tidak relevan pada tugas pada saat itu muncul dalam pikiran seseorang.

ü Kinerja buruk pada semangat tingkat tinggi disebabkan karena beberapa isyarat yang relevan dengan tugas pada saat itu diabaikan.

Kognisi manusia tidak selalu bersifat rasional karena melibatkan banyak bias dalam persepsi dan dalam ingatan manusia. Sebaliknya, emosi juga tidak selalu bersifat rasional, emosi dapat menyatukan manusia, mengatur jalannya sebuah hubungan dan memotivasi orang dalam mencapai suatu sasaran. Tanpa kemampuan merasakan emosi, manusia akan mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan atau dalam merencanakan masa depannya[14].

Beberapa contoh pengaruh emosi dan proses kognitif adalah:

o Suasana hati dan pemilihan informasi

Gagasan mengenai pengaruh suasana hati terhadap pemilihan informasi disebut mood conqruence effect. Pengaruh yang menunjuk pada penemuan bahwa orang-orang lebih cenderung mengingat informasi yang sesuai atau sama seperti keadaan suasana hati yang sedang dialami pada waktu mereka mempelajari suatu materi atau memproses informasi.

o Suasana hati dan mengingat kembali

Efek ketergantungan terhadap suasana hati muncul apabila materi dalam suasana hati tertentu diingat kembali dengan baik apabila seseorang diuji dalam suasana hati yang serupa dengan ketika ia mempelajari atau menerima informasi tersebut.

o Suasana hati dan proses transformasi informasi

Transformasi informasi dikenal sebagai incoding, ialah informasi disimpan didalam gudang ingatan setelah informasi itu diterima melalui alat indera (sensory).

o Suasana hati dan ketepatan menilai hubungan

Jika pada beberapa proses kognisi yang lain orang melihat pengaruh dari keadaan emosi sedih seperti depresi dan stres lebih bersifat merusak atau mengganggu dari pada menguntungkan. Tapi ini dapat terjadi sebaliknya.

o Suasana hati dan penggalian informasi

Ada dua kemungkinan, dimana suasana hati akan mempengaruhi proses penggalian informasi, menguntungkan atau merugikan.

o Suasana hati dan proses berusaha

Pengaruh ini sangat bergantung pada jenis tugas yang diberikan kepada seseorang.

o Kecemasan dan kinerja

Banyak penelitian menunjukkan bahwa kecemasan memiliki pengaruh negatif yang berkibat menurunkan pengaruh negatif yang berakibat menurunkan kapasitas kognitif seseorang dalam mengerjakan tugas-tugas yang lebih sukar atau konplek.

o Emosi dan kesaksian

Banyak dijumpai bahwa, keadaan stres atau cemas dapat menyebabkan ingatan seseorang terganggu. Stres berat dapat mengurangi ketepatan pemberian kesaksian oleh seorang saksi mata ketika berada di ruang pengadilan.

o Suasana hati dan atribusi

Susana hati yang baik atau buruk dapat menyebabkan keberhasilan atau kegagalan dari kinerja. Dari hasil penelitian penelitian menunjukkan bahwa suasana hati mempunyai pengaruh yang bersifat moderat terhadap atribusi yang dilakukan seseorang.

o Suasana hati dan pemecahan masalah secara kreatif

Secara umum dapat dikatakan bahwa suasana hti positif lebih meningkatkan perilaku kreatif daripada suasana hati yang netral, sedangkan suasana hati yang negatif cenderung menurunkan perilaku kreatif.

o Suasana hati dan pembuatan keputusan

Proses pembuatan keputusan dapat dipeengaruhioleh faktor afeksi. Faktor afeksi yang sering dijadikan variabel penelitian adalah suasana hati (mood), misalnya sedih, marah atau cemas atau sebaliknya bahagia atau senang.

Daftar Pustaka

Suharnan, MS. 2005. Psikologi Kognitif. Surabaya: Srikandi

Sternberg, Robrt J. 2008. Psikologi Kognitif. Edisi Keempat. Yogyakarta: Pustaka Peelajar

Chaplin J.P. 1981. Kamus Lengkap PSIKOLOGI. Terjemah. Jakarta: Rajawali Press.

Goleman, Daniel. 2009. Emotional Intelligence. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Carole Wide & Carole Tavris. 2007. Psikologi Umum. Edisi Kesembilan. Jilid 1 & 2. Jakarta: Erlangga